Keunggulan Wakaf Uang

Lazimnya, harta benda wakaf selalu dalam bentuk harta yang tidak dapat dipindahkan atau dalam istilah hukum disebut harta tidak bergerak, umumnya selalu dalam bentuk tanah dan bahkan tanah dipandang sebagai wakaf yang paling utama. Kelaziman harta benda wakaf seperti di atas mengakibatkan wakaf sebagai bentuk amal jariah memiliki tingkat produktivitas yang rendah. Sebab walaupun harta benda wakaf banyak, akan tetapi karena tidak memiliki hasil, ia tidak memberi manfaat yang berarti kepada umat Islam. Padahal harta benda wakaf yang dipergunakan adalah manfaat atau hasilnya. Oleh karena itu semestinya harta benda wakaf harus berpeluang untuk diinvestasikan, sehingga memperoleh manfaat atau hasil.

Sebenarnya dalam Islam, harta benda wakaf tidak hanya terbatas kepada tanah saja. Akan tetapi benda-benda lainnya yang bermanfaat atau menghasilkan. Sudah semenjak lama, yaitu masa pemerintahan Ustmaniyah dan juga di Mesir wakaf tunai sudah dikenal dan dimalkan (Mannan, 2001: 36). Bahkan dalam beberapa hal, wakaf tunai memiliki kedudukan utama/keunggulan dibandingkan dengan wakaf lainya, iaitu dalam hal fleksibelnya wakaf tunai. Fleksibelnya wakaf tunai  antara lain dikarenakan mudah untuk mengamalkannya, mudah untuk menginvestasikannya dan lebih produktif.

Mudah Mengamalkannya
Adanya wakaf tunai, akan dapat merubah adat kebiasaan masyarakat Islam dalam melaksanakan amalan ibadah wakaf. Selama ini selalu difahamkan bahwa kesempatan melaksanakan ibadah wakaf hanya dimiliki orang-orang tertentu saja (orang kaya saja). Kenapa demikian? Karena wakaf adalah tanah, sedangkan tanah memiliki nilai/harga yang relatif tinggi dan lazimnya dimiliki oleh orang kaya saja. Dengan adanya wakaf tunai, ibadah wakaf menjadi lebih mudah dan ringan untuk dilaksanakan. Dengan mudah dan ringannya dilaksanakan, diharapkan harta benda wakaf dapat menjadi jalan untuk melakukan pembangunan keagamaan, sosial dan pembangunan ekonomi. Selain itu, mayoritas masyarakat dapat ikut serta untuk mengamalkannya sesuai dengan kemampuan ekonomi masing-masing.

Dengan keunggulan ini, wakaf tunai dapat dijadikan sebagai sarana penggalian dana yang potensial, karena dengan wakaf tunai lingkup wakif (orang yang berwakaf) lebih luas, dan tentunya jumlah uang yang akan diwakafkan dan yang akan terkumpulpun akan lebih besar. Karena jumlah wakaf masing-masingnya dapat disesuaikan dengan taraf kehidupan dan kemampuan ekonomi orang yang berwakaf (Mustafa Edwin Nasution, 2004).

Besarnya potensi wakaf karena mudahnya untuk mengamalkan wakaf tunai ini dapat dibuat perkiraan dan perhitungan uang wakaf yang  berpeluang dikumpul. Misalnya jumlah muslim yang mau berwakaf dari sekitar 200 juta orang muslim di Indonesia sebesar 15 juta orang (sekitar 7,5% dari total umat Islam Indonesia), dengan asumsi yang berpenghasilan rata-rata Rp.1,5 juta hingga lebih besar dari Rp.15 juta perbulan. Masing-masing berwakaf sesuai dengan penghasilannya.

Asumsi tersebut dapat dibuat perhitungan bahwa yang berpenghasilan Rp.1,5 juta sampai dengan Rp.3 juta rupiah sebanyak 5 juta orang, masing-masing berwakaf Rp.5 ribu rupiah perbulan, dalam satu bulan akan terhimpun uang sebesar Rp.15 milyar dan dalam satu tahun sebesar Rp.180 milyar. Kemudian 4 juta orang berpenghasilan antara Rp.3,1 juta sampai Rp.6 juta dan masing-masing berwakaf Rp.10 ribu perbulan, dalam satu bulan terkumpul sebesar Rp.40 milyar dan dalam satu tahun terhimpun uang wakaf sebesar Rp.480 milyar. Selanjutnya 3 juta orang berpenghasilan antara Rp.6,1 juta sampai dengan Rp.9 juta, masing-masing berwakaf sebesar  Rp.50 ribu, dalam satu bulan akan diperoleh uang wakaf sebesar Rp.150 milyar dan satu tahun sebesar Rp.1,8 triliun. 2 juta orang pula berpenghasilan antara Rp.9,1 juta sampai dengan Rp.12 juta perbulan, dalam satu bulan berwakaf sebesar Rp.100 ribu, akan terhimpun dana wakaf sebesar Rp. 200 milyar, dalam satu tahun akan terhimpun uang wakaf sebesar Rp.2,4 triliun. Dan terakhir 1 juta orang berpenghasilan lebih besar dari Rp.12 juta perbulan dan berwakaf sebesar Rp.200 ribu, dalam satu bulan terhimpun dana wakaf sebesar Rp.200 milyar, dalam satu tahun terhimpun dana wakaf sebesar Rp.2,4 triliun.

Dengan formuluasi perhitungan seperti di atas, akan terhimpun dana wakaf sebesar Rp.625.000.000.000,00 (enam ratus dua puluh lima milyar)  setiap bulan, atau sebesar Rp.7.500.000.000.000,00 (tujuh triliun lima ratus milyar rupiah) setiap tahun. Angka potensi wakaf tunai yang berpeluang untuk dihimpun akan lebih besar lagi apabila orang yang melaksanakan ibadah wakaf lebih banyak dan uang wakaf yang dibayarkan lebih besar. Dan akan lebih menggurita lagi apabila dimamalkan oleh umat Islam secara berkelanjutan.

Perhitungan sederhana di atas, memperlihakan besarnya potensi wakaf tunai yang dapat dikumpul. Tentu saja potensi ini tidak akan terwujud apabila usaha tidak dilakukan dengan manajemen dan sistem pengelolaan yang baik.

Mudah Menginvestasikannya
Adanya wakaf tunai dalam aktivitas perwakafan membuka kesempatan kepada umat Islam untuk melakukan investasi di bidang keagamaan, demikian pula di bidang pendidikan, kesehatan dan pelayananan sosial lainnya.

Adanya dana wakaf tunai akan memberi jalan keluar terhadap kesulitan permodalan. Apabila wakaf tunai dapat terwujud seperti perhitungan di atas, akan terhimpun dana abadi yang mestinya harus ada sampai akhir masa dan akan terus memberi manfaat kepada masyarakat maupun kepada orang yang berwakaf secara terus menerus. Manakala itu yang terjadi, dana wakaf yang terhimpun dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun akan bertambah banyak, dana itu dapat dijadikan sebagai modal sosial yang bersifat abadi.

Apabila dana wakaf tunai sudah terkumpul, untuk memproduktifkannya diinvestasikan pada aktivitas usaha yang produktif. Investasi dana wakaf tunai ini dilakukan dalam berbagai bentuk investasi, baik yang bersifat jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Investasi jangka pendek misalnya pada aktivitas usaha kecil seperti penjual makanan dan pedagang asongan. Investasi jangka menengah misalnya di bidang insdustri kerajinan dan peternakan. Sedangkan investasi jangka panjang dapat diinvestasikan di bidang industri besar, seperti membangun pabrik, membanagun hotel, membangun pertokoan dan membangun swalayan.

Adanya aktivitas usaha investasi seperti di atas, sekaligus akan membuka lapangan kerja baru kepada umat Islam. Pengangguran muslim yang jumlahnya semakin besar dari hari ke hari akan dapat berkurang, karena mereka memiliki peluang untuk memperoleh aktivitas usaha dan kesempatan untuk memiliki pekerjaan yang tetap. Dan oleh karena itu, investasi dana wakaf tunai selain akan mengurangi kemiskinan dan membuka lapangan kerja baru, juga akan dapat mengejar ketertinggalan umat Islam di bidang ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan.

Lebih Produktif
Dalam fiqh wakaf dikemukakan bahwa harta wakaf yang dimanfaatkan adalah hasilnya, sedangkan benda wakaf tidak boleh berkurang. Oleh karena itu, harta benda wakaf mesti produktif. Diantara harta benda wakaf yang ada yang lebih mudah dan lebih cepat untuk menghasilkan ialah wakaf tunai, kerana setelah dana wakaf dihimpun, pada saat itu pula dapat diinvestasikan baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Apabila diinvestasikan secara langsung, dana wakaf yang dihimpun dapat digunakan untuk aktivitas ekonomi, seperti membangun perumahan, membangun apartemen, membangun hotel, membangun pertokoan bahkan membangun rumah sakit Islam  yang semuanya dikelola dengan majemen yang Islami. Apabila jumlah dana wakaf belum cukup untuk diinvestasikan secara langsung, dana wakaf dapat diinvestasikan secara tidak langsung. Misalnya di diinvestasikan di Bank Muamalah, Bank Mandiri Syariah, Bank Rakyat Indonesia Syariah, atau bank syariah lainnya dengan cara deposito. Atau dapat juga dilakukan dengan penyertaan modal di perusahaan-perusahaan yang dikelola secara syariah, seperti di perusahaan Asuransi Syariah atau perusahaan-perusahaan lainnya yang dikelola secara syariah.

Dengan cara investasi seperti di atas akan diperoleh hasil investasi setiap bulan, dan hasil investasi yan diperoleh dapat langsung digunakan sesuai tujuan perwakafan yang dikehendaki oleh orang yang berwakaf. Misalnya untuk beasiswa, bantuan permodalan, pelatihan-pelatihan kerja/usaha, bantuan fakir miskin dan lain-lain.

Penutup
Dari uraian di atas diambil kesimpulan bahwa wakaf uang memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan dengan harta benda wakaf lainnya, yaitu lebih mudah mengamalkannya, lebih mudah menginvestasikannya dan lebih mudah untuk produktif. Apakah keunggulan ini akan dapat dimanfaatkan? Jawabnya tentu terpulang kepada umat Islam.—

Ditulis oleh Suhrawardi K Lubis
Penulis adalah Dosen dan Mahasiswa Fakultas Hukum UMSU Medan